Panggil aku Cicit..

Panggil aku Cicit..


  • While You’re Sleeping

    Malam itu adalah hari minggu, seharusnya sudah waktunya tidur. Tapi malam itu malam terakhir kamu dan aku di kota yang sama. Setidaknya dalam beberapa bulan ke depan. Aku ingat betapa egoisnya aku padamu yang meminta malam berjalan beriringan dengan waktu kita. Sedikit lebih lama lagi. Sedikit saja.

    Kamu tertidur di kursi mobil, di bangku pengemudi. Dari bangku penumpang di sampingmu, aku melihatmu dengan sangat jelas. Kamu tertidur. Pulas sekali. Mungkin kelelahan karena kegiatanmu banyak sekali hari itu.

    Aku melihat alismu yang tebal, berkerut-kerut. Mungkin kamu sedang bermimpi sesuatu.
    Lalu pandanganku menyusuri matamu, hidungmu, bibirmu, semuanya. Kamu sungguh lucu. Kamu yang biasanya tidak bisa diam, kini tergolek lemas dengan guratan lelah pada wajahmu.
    Tubuhmu.. Tubuhmu naik turun sibuk mengatur nafas yang memburu.

    Aku tidak mengizinkan mataku terpejam. Tidak untuk kali ini. Tidak akan kulewatkan sedetik pun waktuku melihatmu tertidur di sampingku.

    Ketika kamu terbangun dari tidurmu kala itu,
    aku mencintaimu lebih dari sebelumnya.

    Posted 1 week ago

    0 notes

  • Y.T.D.P: “Kereta (terakhir di bulan ini) Menuju Jogja”

    Jumat, di bulan 5 pada tanggal kembar 11.
    Dimulai dari beberapa jam yang lalu, rutinitas jumat yang sama dengan jumat sebelumnya, namun ada yg berbeda, aku akan ke Jogja hari ini.
    Gambir, jam 20.44, rangkaian besi itu telah menungguku, tertulis di tiket jam 21.05, namun belum terdapat juga penjelasan mengenai kepastian kapan datangnya kereta. Dan aku tetap menunggu, tapi seakan ada hal yang masih mengganjal dalam pikiranku.
    Ini kan hanya pulang? Seperti pulang pada hari biasa yang telah lalu, tapi mengapa sepertinya ada yang memberatkanku, seakan berkata “ini jumat terakhir di Jakarta”

    Argolawu 22.35
    “Mas tiketnya mas”, sesaat sapaan bapak-bapak pengecek tiket membuyarkan lamunanku. Aku telah berada di dalam sebuah gerbong panjang yang membawaku pulang ke Jogja, terlihat dari balik jendela malam yg menutup semua yang bisa terlihat di kala siang.

    Aku masih memikirkan sesuatu, mengenai kepindahanku ke kota lain yang aku tak menyangka bahwa nama kota tersebut ada di peta sekalipun. Apakah ini benar? Aku telah menjadikan Jakarta sebagai kota keduaku, dimana semua hal bisa aku terima, meski harus menghirup udara yang sangat kotor dengan rentetan suara klakson yang memekakkan telinga, tapi itu lah Jakarta, kota yang beberapa bulan belakang ini turut membangun dan mengambil perannya dalam kehidupanku.

    23.00 masih di dalam gerbong kereta.
    Mata yang masih terbuka, dengan berbagai macam perasaan yang masih mengganjal.
    Dan aku teringat kamu.
    Kamu, ya kamu, kamu yang sangat kompleks di hidupku, entah mengapa semuanya tentang kamu sangat kompleks, mulai dari perkenalan hingga saat ini. Secara resmi, belum lama kita bersama, tapi entah mengapa, sepertinya aku sudah mengenal dan memahami kamu sejak lama. Mulai dari pertemuan yang tidak diduga, hingga beberapa obrolan tertulis dan suara yang aku sangat menyukainya, karena kamu sangat pintar dalam bercerita sesuatu, meski sederhana namun tetap menjadi hal yang menarik untuk dibicarakan. Nanti akan aku ceritakan banyak tentang kamu.

    Oh iya, seperti yang kamu bilang, aku memang selalu datang dan pergi, seperti saat ini, hanya ada untuk beberapa saat dan harus kembali berpisah.
    Siapa nanti yang akan mengajakmu bercanda? Bercerita tentang film yang baru akan diputar. Siapa yang akan menyuruhmu untuk memotong kuku? Siapa yang akan mengawasimu saat kamu telat makan? Agar tidak perlu menangis karena sakit di lambungmu itu. Siapa yang akan menahan derai air matamu mengalir disaat kamu kecewa akan sesuatu hal? For sure, that should be me. Should berarti seharusnya, ya karena secara langsung aku tidak akan bisa melakukan itu, tapi entahlah, seperti yang kamu bilang juga, Tuhan pasti punya rencana atas semua, dan kita lihat saja, selalu ada kata semoga dalam setiap doa. Dan sebut saja dalam kali ini aku sedang merindukanmu.

    Posted: May 11, 2012
    By Y.T.D.P

    Posted 1 week ago

    0 notes

  • 6 April 2012

    Beberapa waktu yang lalu aku menemukan sebuah kotak musik di etalase toko. Bentuknya sangat klasik.

    Sederhana. Tapi bukan berarti tidak menarik.

    Sebuah kotak kayu berbentuk persegi, penuh dengan ukiran di bagian pinggir. Tampak cantik dengan sedikit sentuhan warna merah marun di tubuhnya, dan balutan bau kayu yang khas serta setitik aroma jasmine sebagai penambah daya pikat. Sesaat aku buka kotak musik itu, bunyi derit yang dihasilkan sangat sopan. Ramah dan lirih.

    Saat itu juga aku tahu, hatiku resmi mendambanya. Menginginkannya.

    Kotak musik itu membiusku dengan bermacam-macam jenis musik yang ia punya. Mengajakku menari riang dari waktu ke waktu. Saat aku malas menari, alunan lembut musiknya masih juga membuatku berdendang pelan.

    Hatiku ia curi lagi, dan lagi.

    Tak bersisa.

    Hingga akhirnya, aku tak lagi mendambanya. 6 April 2012 aku membelinya di toko itu. Kini, aku bisa menyimpannya di kamarku. Aku bisa menghabiskan waktu dengannya setiap hari dan menari dengan untaian musiknya setiap saat.

    Ah senangnya, kotak musik itu sekarang milikku.☺

    Posted 3 weeks ago

    0 notes

  • Aku, Kamu, dan Buhu Kita.

    Siang itu aku bertemu denganmu di Buhu. Pertama kali kamu menengok dan menatapku, aku ingat sekali kamu melempar senyum padaku. Itu senyum pertamamu untukku.

    Malamnya, kita berbincang tentang kehidupan kita sebelumnya. Menarik sekali mengingat betapa nyamannya aku menghabiskan waktu malam itu denganmu. Tembok Buhu depan kamarku menjadi saksi bisu kamu membagi tawa denganku. Itu tawa pertamamu untukku.

    Suatu hari di Buhu, kamu menangis. Kamu bilang kamu putus dengan pacarmu. Aku bingung harus berbuat apa selain menemanimu menangis. Itu tangisan pertamamu untukku.

    Hari-hari berikutnya, membuktikan bahwa sebuah perjalanan panjang bersama seseorang membubuhkan banyak bumbu di dalamnya. Cerita kita, hampir sama dengan cerita-cerita orang kebanyakan. Tertawa senang saat bahagia, menangis saat sedih, terdiam saat bingung, mengumpat saat kesal. Tapi, kamu yang membuat semua terasa berbeda.

    Bagaimana bisa kamu dengan mudahnya membuatku tertawa saat hati memintaku untuk menangis? Jadi, bagaimana bisa aku tidak begitu menyayangimu?

    Kini, 4 tahun sudah kamu menjadi bagian hidupku. Menjadi sahabatku. Banyak episode hidup yang sudah kita buat. Kita menulis naskah, memainkan peran, sibuk merekamnya, dan menyimpan rapi dalam memori. Bahkan kau berbaik hati membantuku menyediakan memori lebih untuk rekaman episode cerita ini.

    Oh, hari ini ulang tahunmu? Tidak mungkin aku lupa. Setiap tahunnya selalu kita rayakan di Buhu, bukan?

    Terima kasih sudah bersedia membagi banyak hal denganku, Andrea. Buhu akan tetap menjadi tempat favoritku dan akan selalu mengingatkanku padamu. Semoga kamu selalu berbahagia.

    Selamat Ulang Tahun! :)

    Posted 2 months ago

    0 notes

  • Andai Kamu Tahu

    Aku pernah bilang padamu,
    bahwa aku tak mau menjadi sebuah sofa nyaman.
    Karena ketika aku ciptakan nyaman untukmu, kau justru mengajaknya duduk bersama.
    Berdua.

    Aku pernah bilang padamu,
    aku mempersiapkan diriku mencicip sedih dan menelan kecewa.
    Rasanya pahit ya..
    Ah, tapi jika dibandingkan dengan ukiran senyum di wajahmu yang kulihat setiap hari,
    sedih dan kecewa yang pahit itu sebuah tawaran yang menarik bukan? :)

    Andai kamu tahu,
    aku selalu ciptakan keluh saat menyebut namamu.
    Memeluk sepi, dirangkul rindu.
    Tapi hujan selalu dan selalu,
    paksaku untuk nyatakan cinta padamu

    If only you could see me in a different light, dear..

    Posted 4 months ago

    1 note

  • Melukis Senyum.

    Tadi malam.

    Ia menoleh padaku.

    Tersenyum.

    Hatiku terenggut dari tempatnya. Tanpa izinku.

    Tuhan,
    setelah malam ini, kini ijinkan aku yang melukis senyum di wajahnya setiap hari

    …boleh? :)

    Posted 4 months ago

    0 notes

  • Hello, person of the year :)

    “Cit.. Lo mau jadi adek gw nggak?”

    Aku tertawa kecil.

    Berawal dari satu kalimat ajaib itu. Layaknya kalimat magis yang menyihir elemen-elemen keadaan setelah hari itu.

    Dia temanku.
    Bersamanya, membuat sulaman jarak menjadi lebih mudah. Rangkaian cerita setiap malamnya, membuat kami merasa bahkan alam semesta pun berpihak pada kami.

    Ia begitu riang. Penuh gairah dan semangat dalam menjalani hidup. Tapi ia juga tidak sombong. Ia cukup baik untuk mau membagi semua energi positifnya untukku. Membuatku mampu menafsirkan alasan untuk membuka mata esok hari. Bukan untuknya, bukan untuk mereka, tapi untukku.

    Ramah dan selalu tersenyum. Dua hal yang tidak pernah lepas dari dirinya. Kesederhanaannya menaklukan angkuhnya egoku. Membuatku senantiasa tampil apa adanya dan positif. Komunikasi kami begitu hangat, tawa kami begitu renyah, cerita-cerita yang kami bagi begitu seru, dunia kami begitu nyaman.

    Tuhan, terima kasih sudah mengenalkan dia padaku. Aku bersyukur atas hubungan pertemanan kami ini.

    This is a lil’ gift for my person of the year..

    Kamu, selamat tahun baru. :)

    Posted 5 months ago

    0 notes

  • ”You can’t just run back to the past just because it’s familiar.

    How I Met Your Mother

    Posted 7 months ago

    0 notes

  • ”I’m not obsessed, I’m just in love. :)

    Posted 8 months ago

    0 notes

  • Perjalanan Tiga Minggu.

    Keretaku sedang hilang kendali. Ia membawaku entah kemana. Ia cukup lama diam dan sedang tak minat membicarakan arah tujuan perjalanan ini.

    Terkadang ia cukup baik, mengajakku ngobrol membicarakan pemandangan di luar jendela. Tentang betapa indahnya taman-taman kota, pelangi yang menari lepas, ataupun tentang anak-anak yang tertawa riang di pekarangan rumah. Namun tak jarang pula ia membicarakan cuaca yang kerap mendung dan hujan deras disertai petir yang menyambar hebat.

    Sudah hampir tiga minggu kami berada dalam perjalanan ini. Aku tak tahu mengapa keretaku bahkan tak bisa mengendalikan arah, pun dikendalikan. Secara teknis aku tahu. Tapi tidak paham. Benar-benar tidak paham.

    Maaf.

    Posted 8 months ago

    0 notes

Likes

Following

  • kari-shma
  • quote-book
  • staff
  • yustannatsuy
  • fadhianfafa
  • andreot
  • syaifatania
  • enamtujuhenam
  • dhitaoctavia
  • sinskojaya

©2010. Tumblr theme by Greg Cooper. Icons by P.J. Onori. With thanks to Jamie Cassidy. Inspired by Panic.

*Unlikely to find your lost post using this but you can try...